MENCARI PEMIMPIN SULBAR 2024

Berangkat dari diskusi lepas di grup WhatsApp Orang Sulbar (WA). Ruang yang sempit tak ada moderator dan tak saling bertatap muka. Hingga larut malam diskusi itu mengalir begitu saja.

Grup yang dihuni banyak profesor dan doktor dari berbagai disipilin ilmu, Intelektual muslim, aktivis dan wartawan, politisi dan para tokoh pejuang sulbar mencoba mencari format pemimpin masa depan di Provinsi yang ke 33 di Indonesia ini.

Lantas. Seperti apakah wajah pemimpin kedepan dalam pandangan para intelektual Sulbar ini?

Mencari pemimpin yang ideal tentu tak semuda membalikkan telapak tangan. Paling tidak mendekati ideal atau kesempurnaan. Apalagi memimpin daerah seperti domain penduduknya homogen.

Eks Ketua KPPU Doktor Syarkawi Rauf berpandangan bahwa Sulbar butuh pemimpin yang memiliki narasi besar, cerdas, berani, ikhlas, berempati dan visi jauh kedepan.

Biasanya, kata Syarkawi pemimpin seperti itu akan ngotot memperjuangkan gagasan besarnya. Tanpa itu, menurutnya Sulbar sulit keluar dari lingkaran kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

Kendati, ia mencontohkan bagaimana konsep kepemimpinan Bung Karno menyatukan kapitalisme dengan sosialisme. Berangkat dari kecerdasan dan keberanian Bung Karno untuk menjadi pemimpin dunia.

Kendati, Syarkawi Rauf menyadari untuk menjadi pemimpin di era sekarang tak mudah. Butuh modal politik yang besar, termasuk financial.

Karena visi besar tanpa modal financial besar memang amat sulit. Jika memang realitas masyarakat begitu.

Intelektual muslim lainnya seperti Doktor Tasrief lebih melihat konsep kepemimpinan pada Nabi Sulaiman yang mampu menyampaikan visinya dalam sidang majelis ilmu. Kisah kepemimpiman Nabi Sulaiman seperti yang diungkapkan Tasrief, betapa pentingnya seorang pemimpin menerima masukan atau saran dari para pemikir dan ilmuan.

Begitu pun yang diungkapkan oleh Doktor Busman bahwa pemimpin kedepan harus punya literasi sastra dan agama. Intelektual asal Sulbar yang pemikirannya sangat filosofi ini mengharapkan pemimpin yang akan datang di Sulbar harus mampu membangun jaringan keluar, tak boleh mengandalkan pajak masyarakat. Karena itulah nilai plus seorang gubernur.

Pandangan lain datang dari seorang intelektual perempuan Doktor Fadila Parakasi. Fadila menyebut gagasan yang ideal tanpa landasan yang kokoh untuk mengubah pola pikir masyarakat yang cerdas dan kritis. Artinya kata Fadila masyarakat dihadapkan pada persoalan perut. Maka visi - misi besar itu akan menguap begitu saja.

Bagaimana Membangun SDM yang Berkualitas?

Nampaknya melahirkan pemimpin yang cerdas dan berkualitas tak lepas dari pendidikan yang berkualitas pula.

Doktor Muslimin Majid menyebutnya kualitas pemimpin ada 2 tolak ukurnya. Yaitu kualitas integritas dan kompetensi.

Saat ini, kualitas integritas seperti benda 'asing'. Untuk membangun point pertama itu, tentu lewat pendidikan yang berkualitas dengan menanamkan nilai - nilai spritual sejak dini secara berkesinambungan dan konsisten.

Ujung dari lahirnya seorang pemimpin yang didambakan oleh masyarakat sulbar idealnnya memang begitu.

Basis agama yang kuat (boarding school) . Karena misi besar itu akan melahirkan pemimpin yang berkarakter dan berintegritas. Semoga saja.

Pemimpin Redaksi Beritaini.com