Angka Putus Sekolah di Sulbar Bikin Geleng Kepala

Foto: Ilustrasi

Mamuju, Beritaini.com - Ada yang menarik, sekaligus mengagetkan terkait angka putus sekolah di Sulbar. Padahal pendidikan amatlah penting untuk melahirkan SDM yang handal di Sulbar.

Berdasarkan catatan Wakil Ketua DPRD Sulbar Usman Suhuriah yang dikutip dari Legislativ Corner, angka putus sekolah mencapai 36.589.

Angka tersebut terungkap pada acara launching portal ATS (Tangani Total Anak Tidak Sekolah) yang berlangsung di Kantor Gubernur Sulbar, 31 Agustus 2020 pekan lalu.

Usman Suhuriah menyebut, sejauh data - data itu adalah fakta. Maka akan menjadi ironi yang memprihatinkan. Apalagi mendapatkan pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap warga negara.

Hak tersebut dijamin pula oleh UU yang menjadi kewajiban negara untuk memenuhi hak warga negara.

Sementara itu, aktivis YKPM Muliadi Prayitno menilai solusi dari persoalan itu sebetulnya ada di Pemprov.

Paling tidak menurut Muliadi Prayitno ada 4 point penting sebagai solusi dari sekian banyak persoalan dunia pendidikan.

Baca juga:  Jamin Kondisi Prima, Biddokes Polda Sulbar Periksa Gratis Pemudik

Pertama, Prioritas membangunan sektor pendidikan dasar (Paud dan Sekolah dasar) atau setingkat sekolah dasar.

Kedua, Memprioritaskan alokasi anggaran untuk mendukung ketersedian sekolah dasar dan gurunya.

Ketiga, Membuka akses bagi anak - anak 2kurang mampu (miskin) untuk dapat bersekolah.

Keempat, Melakukan penguatan (publik kampanye ke orangtua anak agar mendorong anak-anaknyanya sekolah ketimbang disuruh bekerja mencari uang.

Kelima, Memastikan sektor terkait terutama diknas bekerja profesional meningkatkan pendidikan terutama pendidikan dasar. Yang terakhir sebut Muliadi Prayitno adalah memperbaiki kesejahteraan guru dan honorer guru terpencil.

Penyebab Anak Putus Sekolah

Salah satu pemerhati pendidikan Doktor Muslimin berpandangan soal banyaknya anak putus sekolah.

Muslimin menyebut ada 4 faktor penyebabnya. Pertama, Latar belakang pendidikan orang tua. Kedua, Faktor ekonomi keluarga.

Ketiga, lingkungan tempat tinggal dan terakhir faktor minat anak bersekolah

Paling dominan, sebut Muslimin ada dipoin 2 dan 3. " Ini tugas pemerintah bagamana mencegah sehingga anak-anak ini tdk putus sekolah," ujarnya kepada beritaini.com melalui watshap, Selasa, 8 September 2020.

Baca juga:  Harga Sawit Sulbar Naik, Hatta Kainang: Buat Skema Harga yang Berkeadilan

Selain 4 faktor tersebut, menurut dia kebijakan pemerintah bisa juga menjadi pemicu anak -anak tidak mau sekolah, misalnya biaya sekolah yang mahal, fasilitas yang tidak memadai sehingga menurunkan minat dan selera anak bersekolah.

"Jadi pemerintah mesti melakukan intervensi serius melalui kebijakan-kebijakan yang memotivasi anak untuk tetap sekolah. Misalnya pemberian beasiswa secara kontinyu," katanya.

Muslimin menilai soal data putus sekolah di sulbar, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, segera mereformasi total di lembaga yang menangani pendidikan mulai dari manajemennya sampai kepala - kepala unit yang terkait.

Menurutnya, sektor pendidikan mestinya di kelola degan sagat serius dan sungguh - sungguh, degan merekrut orang - orang yang benar - benar kompoten di bidang pendidikan.