Jejak Sang Maestro Seni Tradisional "Parrawana Towaine" Mandar, Kini Telah Tiada

Foto: Maiyah

Polman, Beritaini.com - Sang Maesto seni tradisional "Parrawana Towaine" Mandar CAMMANA lahir pada tahun 1935 di sebuah desa kecil bernama Samasundu Kecamatan Limboro Kabupaten Polewali Mandar.

Kendati tahun kelahiran almarhumah terdapat perbedaan data. Yang tertulis di KTP tahun 1941, dan di paspor yang sempat dimiliki oleh almarhumah tercatat tahun kelahiran 1944.

Hj CAMMANA meninggal dunia tepat pada hari Senin, 7 September 2020 pukul 15.55 Wita.

Ia meninggalkan 4 orang putra - putri yaitu Hasnah, Sahapia, Najamuddin, Muh. Dahlan. Dan 20 orang cucu dan 14 orang cicit.

Jejak Cammana, seperti dilansir dari berbagai sumber menyebutkan, Cammana mulai menggeluti seni tradisional selaku Parrawana Towaine sejak tahun 1954. Saat itu, Ia mulai menggelar pertunjukan seni tradisional mandar dari rumah ke rumah untuk memenuhi hajat masyarakat Mandar.

Dari situlah, moment-moment awal Mak Cammana mulai dikenali pada skala lintas kabupaten, lintas provinsi, skala nasional dan bahkan skala internasional.

Berawal dari fasilitasi Bupati (alm.) Saad Pasilong, Mak Cammana sering pentas di Makassar dan puncaknya tahun 1995 Grup Parrawana Towaine Mak Cammana dibawa ke Singapura.

Baca juga:  Update Covid -19 Sulbar: Sudah 60 Orang Positif Corona, Bertambah 2 Kasus, Sembuh 5 dan Meninggal Dunia 2 Orang

Era (alm) Bupati Hasyim Manggabari juga. Mak Cammana’ difasilitasi untuk pentas di Jawa, khususnya Jombang dan Yogyakarta.

Pada 17 Maret 2006 Emha Ainun Nadjib, ‘anak’ sekaligus kekasih almarhumah, mengundang Mak Cammana untuk tampil di Yogyakarta, bersama WS. Rendra, dan Tetaer Flamboyant dalam Acara Mocopat Syafaat, pengajian yang dibina oleh Emha Ainun Nadjib di Yogyakarta.

Sang Maestro ini juga mendapat sejumlah penghargaan atas jasa-jasanya terhadap negara dan bangsa Indonesia dibidang kebudayaan.

Berikut inilah penghargaan yang pernah diterima Mak Cammana:

1.Tahun 2009 menerima Pengangerahan Tanda Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia;

2. Tahun 2010 menerima penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sebagai Maestro Seni Tradisonal Indonesia (Parrawana Towaine);

3. Tahun 2010 menerima penganugerahan Tanda Kehormatan dari Bupati Polewali Mandar atas Pengabdiannya sebagai Pengembang Bidang Kesenian;

4. Tahun 2011 Menerima penghargaan, Ijazah dan Syahadah Maiyah atas Kesungguhan meyakini, mempertahankan dan menjalankan nilai-nilai kesungguhan, kualitas, otentisitas, kesetiaan dan keikhlasan, dari Emha Ainun Nadjib dan Masyarakat Maiyah Nusantara di Gedung Cak Durasim Surabaya Jawa Timur;

Baca juga:  DPRD Sulbar Pantau Kesiapsiagaan RSUD Sulbar Hadapi Covid-19

5. Tahun 2015 menerima penghargaan dari Gubernur Sulawesi Barat atas Atensi dan Upaya Melestarikan Kesenian Parrawana Towine;

6. Tahun 2018 menerima penghargaan dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar atas Peran Serta Dalam Kegiatan Gelar Budaya;

7. Tahun 2018 menerima penghormatan dari salah satu Tokoh Masyarakat/Jamaah Maiyah Bandar Lampung mengabadikan nama “Bunda Cammana” sebagai nama sebuah Gedung SD Swasta di Bandar Lampung;

8. Tahun 2019 menerima penghargaan dari Bupati Polewali Mandar sebagai Pelaku Budaya Tuqduq Tradisonal Mandar.

Tak hanya itu, almarhumah juga meninggalkan warisan budaya antara lain:

1. Sanggar “Sohibu Baiti” yang menjadi tempat berlangsungnya proses pewarisan dan pelestarian seni tradisional Parrawana Towaine, berada di Lingkungan 1 Kelurahan Limboro Kecamatan Limboro;

2. Taman Pendidikan Al Quran “At-Taqwa” berada di Lingkungan 1 Kelurahan Limboro Kecamatan Limboro;

3. Menjadi “Ibu” dan ‘Mbah/Nenek” bagi seluruh Jamaah Maiyah se Nusantara.(*)

Sumber : Dokumentasi Dinas Pendidikan dan Kebudayan Polewali Mandar, Tulisan Muhammad Ridwan Alimuddin “Cammana, Pencinta Nabi dan Penabuh Rebana” dan sumber lainnya.