Tenaga Kontrak, Antara Plat Merah dan Plat Hitam

Nasib tenaga kontrak lagi lagi menjadi perbincangan publik hampir di setiap pojok tongkrongan maupun dalam bilik bilik privasi.

Memang, menjadi pegawai kantoran berplat merah nyaris telah dijadilan blue print bagi sebagian warga kolong nusantara ini.

Seandainya seorang bayi yang lahir bisa ditanya akan bekerja dimana kelak jika telah dewasa, pasti jawabannya hanya tiga huruf, PNS.

Pekerjaan tiga huruf dengan awalan P dan berakhiran S ini memang menggiurkan. Banyak tunjangan bagi mereka yang telah berhasil menduduki pekerjaan tiga huruf ini. Belum lagi anggaran perjalanan dinas yang disediakan daerah untuk mereka, wow lumayan, hampir dua sampai tiga kali lipat dari gaji sebulan seorang ASN golongan IIIa.

Itulah mungkin yang membuat masih banyak pemuda-pemudi jaman now, yang tergiur menjadi pegawai negeri sipil. Bahkan meski bukan sebagai PNS, namun berpakaian ala-ala PNS pun jadi. Yang penting bekerja di bawah atap kantor berplat merah. Dengan harapan yang tak kunjung usai, menjadi pegawai plat merah.

Dengan penghasilan jauh dari standar, mereka rela berpakaian ala ala PNS yang penting berbaju dan berlambang pemda sudah cukup bagi mereka untuk dijadikan kebanggaan bagi keluarga.

Hampir di setiap Pemerintahan Daerah menjadi bahan perbincangan, mulai dari pejabat tak bereselon, politisi, hingga pejabat bereselon tinggi di pemda setempat.

Adalah wajar seorang calon pemimpin di daerah memberikan perhatiannya dengan menjanjikan penghasilan dan kesejahteraan yang layak bagi mereka. Tentunya dengan memperhatikan anggaran yang tersedia serta kajian yang komprehensif.

Semoga keluarga, keturanan kita tidak tergiur dengan pekerjaan ala-ala PNS ini, sebab dikatakan pegawai plat merah juga tidak, dikatakan pegawai plat hitam juga tidak, yang penting tidak berplat bodong.

Achmadi (Redaktur beritaini.com)

banner 454x122